"Kita itu kalau sampai membenci pekerjaan, itu pasti karena yg di kerjakan bukan pekerjaan.
Pekerjaan itu harusnya memampukan kita.
"Jadi bekerja itu bukan untuk mencapai hasil, sebetulnya bekerja itu menjadikan kita mampu di bidang yg sedang kita kerjakan.
Seperti sekolah, orang yg sekolah di sekolah perawat, itu kalau sekolahnya sungguh-sungguh, bisa menjadi manager restoran.
Orang belajar produksi pabrik, kalau belajarnya sungguh-sungguh bisa jadi kepala rumah sakit.
"Banyak orang masih salah mengerti bahwa sekolah itu harus menjadikannya pekerja di bidang itu, padahal sekolah itu menjadikannya mampu menerima kompleksitas dan menyelesaikan masalah dengan logika yg di didikan di bidang itu, sehingga kalau logikanya dia dapat, dia bisa bekerja di manapun.
Sama dengan pekerjaan, harusnya pekerjaan itu bukan untuk menjadikannya kaya di bidang itu, bukan untuk mengumpulkan sesuatu di bidang itu, bukan sama sekali, pekerjaan kita itu menjadikan kita mampu menyelesaikan masalah kehidupan pada tingkat yg lebih tinggi.
Contoh: Manager di rumah sakit, misalnya kalau dia pindah, bisa jadi manager restoran, karena logikanya dari menggerakan orang mencapai hasil, meminimalkan biaya, meminimalkan kesalahan, meminimalkan keluhan pelanggan, itu sama.
"KEBANYAKAN ORANG ITU, KARENA TERLALU SIBUK MENCARI UANG, LUPA MEMBANGUN KEMAMPUAN DIRINYA."
Nah, orang yg sibuk mencari uang akan sangat sadar sekali tentang satu hal, apa? Yaitu uangnya kurang.
Berarti kalau orang yg sibuk mencari uang, perasaannya akan selalu kurang.
Waktu terima gaji, kurang, itu berlaku untuk orang yg hanya mencari uang.
Tapi kalau buat orang yg membangun kemampuannya, waktu terima gaji, terima kasih.
Aku sudah di latih untuk bisa di bidang ini, masih dapat uang.
Aku sudah di buat mengerti ini, masih di kasih uang, terus di kasih kewenangan buat orang yg bergerak mengerjakan ini, masih di kasih uang.
Berarti orang yg melihat pekerjaan sebagai laboratorium penghebatan diri, senang sekali bekerjanya. Sebetulnya itu harus menjadi catatan pribadi kita.
Kalau bekerja melihat gaji sebagai uang praktikum, "saya lagi praktek kok, menggunakan yg saya yakini, eksperimen, di kasih level system yaitu di kasih anak buah, lalu di kasih uang praktikum. Lalu, supaya level systemnya senang, saya ajak mereka lunch (makan siang) sama-sama teman, itu kita yg bayar. harus ikhlas, karena mereka membantu, jadi waktu mereka pesan makanan harus di perhatikan, supaya pesannya enggak mahal-mahal, iya khan dapatnya sedikit...hhe...
Dan itu harus berlangsung di karir kita sampai sekarang, sahabat-sahabat saya, itu saya rawat, karena hasil saya, itu juga dari mereka. Nah, itu yg menjadikan saya lebih mampu.
"Berarti siapapun yg melihat pekerjaan itu hadiah pertamanya, gajih itu uang praktikum, teman-teman itu level system mereka berhak bagi keberhasilan. Mereka tidak sempat melihat gajinya berharga atau tidak, mereka tidak sempat memikirkan pekerjaannya menarik atau tidak, karena mereka memikirkan sedang menjadi apa, sedang di jadikan demi apa. Sehingga kesibukannya adalah kesibukan naik, bukan kesibukan mencari, berharap di kasihani, merasa kurang.
Itu mungkin yg menjadikan kita bekerja bersemangat dan menjadikan semangat bekerja itu, semangat untuk bangun pagi."
Mereka sibuk membangun kualitas diri dan tidak terlalu fokus dengan seberapa besar mereka mendapatkan materi."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar