BIJAK

Ketakutan terdalam kita bukan karena kita tidak cukup.
Ketakutan terdalam kita adalah kita memiliki kekuatan untuk mengukur.

Kita bertanya pada diri kita sendiri, "Siapa saya untuk
menjadi cerdas, cemerlang,
berbakat, dan menakjubkan?

"Sebenarnya, kau tak bisa
menjadi siapa.
Kita dilahirkan untuk menjadi manifestasi keagungan Tuhan dalam diri kita.
"Maka biarkan cahaya dalam
dirimu itu bersinar, hal itu
secara tidak sadar kau telah
mengijinkan orang lain untuk
melakukan hal yang sama."

Menjadi tangguh itu pilihan,
berani atau tidak.
Jadilah tangguh Akan ada harap yang tergeletak.
Akan ada ucap yang patah.
Akan ada pertandingan yang
tak pernah dimenangkan.
Yang dibutuhkan hanya hati yang tenang.
Meletakkan segalanya pada
porsi yang benar.
Supaya segalanya dihadapi
dengan lengkung senyum
sempurna. Tak ada goyah.
Juga tak ada kecewa.
Karena sempurna hanya milik-Nya dan manusia hanya mampu menerka dan berusaha, bagaimana mengupayakan sedikit mungkin kekeliruan.

Akan ada orang-orang yang
pergi.
Akan ada orang-orang yang
berbalik.
Akan ada orang-orang yang
mematahkan.
Akan ada pula orang-orang
yang membangun.
Sebenarnya sejauh mana kita
mau bersentuhan.
Sejauh mana kita mau melihat.
Sejauh mana kita tahu menarik garis.
Sejauh itu, bahagia bisa ditarik. Bahagia itu tentang prinsip akan apa yang cukup.
Bukan tentang apa yang
harus dipunya.
Apalagi tentang siapa yang
ada.
Karena pada satu masa, akan
selalu ada yang pergi.
Akan ada satu masa ketika
goyah itu begitu mudah dirasa.
Cukup kembali pada apa yang
dipelajari sejak awalnya. Jangan menggantungkan
bahagia pada orang lain.
Jangan membutuhkan orang
lain dengan berlebihan.
Karena manusia akan selalu
mengecewakan.
Karena manusia bukan
sempurna.
Segalanya akan cukup selama
kita meletakkan segalanya
sesuai letak semestinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar